Sabtu, 30 Juli 2016

(huge) Dream(s)


That psycho who shot Christina Grimmie couple weeks ago is just edan nggak masuk di akal semua -makhluk hidup. Bahkan di akal tanaman yang nggak punya akal. Kalimat barusan selalu ada di kepala sembari nulis post ini ditemani coveran mendiang Grimmie yang suaranya maha dahsyat.

5 menit lalu Simboke ada di sebelah mendengarkan aku bercerita menggebu-gebu tentang penembakkan si Grimmie, Simboke manggut-manggut dengan raut prihatin (yang aku yakin nanti sore sudah lupa siapa itu Grimmie).

Fokus, yel.

Aku suka liburan, artinya ada waktu luang untuk membersihkan kamar yang sudah tidak terlihat seperti kamar manusia. Artinya ada waktu untuk goler-goler nonton drama korea, juga sekroling instagram melihat orang lain yang sukses kesana kemari berbagi manfaat.

And here I am like, bentar bangunin 5 menit lagi buk.

I do have big dreams even huge dreams juga plan untuk mimpi besar tersebut, tapi aku takut.

"I have very big dreams, they scare me."- Zhifa

Me too.

Aku takut semua itu berakhir menjadi wacana. Atas berbagai kegagalan hingga pada poin aku sudah terbiasa dengan balasan email yang berbunyi

There were a large number of highly competitive candidates and we regret to inform that your application was not success in this occasion.

Kalau kata Dio, calon artis yang semoga gak gagal debut, ketika kami membahas urusan kampus,

"Kadang kita harus bersyukur mendapat ke-apesan ki, soalnya Tuhan masih fair tentang masa depan. Kan ga ada yang tau coy."

Tumben berbobot le ngomong. And quote of the year goes to his!

Kata orang, kalau rencana A gagal masih ada 25 alfabet lagi.

Aku ingat dalam sebuah pelatihan di kampus, Lutfi Chabib sebagai resource person bilang

"Jangan takut terlalu jauh bermimpi, karena jarak kamu dan mimpimu hanya sejauh dahi dan sajadahmu."

Again, I keep thinking; do I deserve those dreams to be reality?

And one side of me; yes you do if you decide so. InshaAllah.

Rabu, 27 Juli 2016

7 Hours with Myself

Tulisan ini ditulis di lantai dua smoking-room coffee shop di jalan sudirman. (NO, I don't smoke. Karena non-smoking room terlalu sumuk dengan AC yang terkalahkan panasnya Jogja.) At least ada angin sepoi-sepoi di lantai dua, dan hanya ada satu pengunjung yang merokok. I still can handle this.

Humans think, they are the best planners, yet the reality; God is the best planner and executor. 

Seperti manusia pada umumnya, aku percaya dengan kalimat di atas but susah juga bos untuk betulan dijalankan. But I have been trying tho.

Salah satu escape mechanism-ku untuk menjalankan kalimat di atas adalah dengan 7 Hours with Myself. Yes, sounds so nestapa karena sendirian aja mbak?

Hari ini aku berencana ke perpustakaan yang katanya terbesar di asia tenggara di daerah Janti, tapi ku tak percaya cos you know how media exaggerate on something for the sake of 'booming news'.
Aku menstater kendaraan pukul 10 pagi, heading to salah satu mall di jalan solo untuk beli tiket Rudy Habibie dan nonton bersama Simboke sore nanti. Semakin pagi semakin bagus untuk ngantre karena jumlah pengunjung sinema berbanding lurus dengan semakin petangnya hari. That's my theory and I do believe. 

Mampir sebentar ke Books and Beyond not buying anything becoz nanti ku tak bisa jajan mamam.

Melihat macetnya jalan Solo dari arah timur ke barat mengurungkan niatku ke perpustaakan di daerah Janti, karena keluar mall harus puter balik untuk ke arah timur. Guess you know which mall.

Kue laba-laba abang-abang di depan di SD Masjid Syuhada would be good idea, I thought. Tapi sepertinya wrong timing. I do love kids, tapi tidak sebuanyak ini. Istirahat Dzuhur adalah waktu dimana murid SD dan SMP Syuhada ambyar di masjid untuk sholat dzuhur berjamaah, untuk berjalan di plataran menuju tempat wudhu, aku nabrak banyak precil either they nabrak me. Saking penuh precil berseragam hijau.

Turned out, abang kue laba-laba tidak berjualan hari ini. Hatiku sedih.

Aku memutuskan duduk lesehan dengan tikar yang digelar di atas trotoar. Memesan lotek juga es beras kencur bapak gerobagan. I commit not to makan di pinggir jalan dengan piring dan gelas yang hanya dicuci dengan air se-ember dalam satu hari. Hey don't judge me dulu ya.

I used to like makan dipinggir jalan, mie ayam pinggir jalan yang semakin banyak boraks dan saos bagong, semakin ena'. Atau nasi goreng kambing yang cucian piringnya hanya se-ember dengan penjualan 100 piring tiap malam. I don't mind having breakfast or lunch or even dinner di penjual gerobag pinggir jalan. Tetapi semua berubah setelah aku mengikuti pelatihan tentang penyakit Hepatitis.

That disease is so scary, dude.

Tapi siang ini I break my commitment dan menikmati lotek dan es beras kencur di trotoar depan masjid Syuhada.

Di depan mataku siang ini adalah penjual makanan gerobag yang kebanyakan adalah pria. Kemungkinan besar mereka adalah tulang punggung keluarga, dengan berjualan es gulas, lotek atau bakwan kawi yang keuntungnya jauh dari cukup. I felt so guilty atas banyak hal yang tidak aku syukuri.

Kulanjutkan 7 Hours with Myself menuju kedai kopi di jalan sudirman, tempat aku duduk dan menulis post ini sekarang.

I think 7 Hours with Myself is good idea to know myself more through some simple moments.

Senin, 04 Juli 2016

Prasyarat.

Kata mereka, mereka menyukai sinar matahari

Penyeimbang jagad katanya

Kata mereka juga tanpa matahari, semua pasti jatuh tersesat dari porosnya

Termasuk bagian terkecil juga pemegang rekor subjek paling angkuh, siapa lagi kalau bukan manusia

Kata mereka, mereka menyukai sinar matahari

Tapi jika tidak terlalu menyengat

Jika mereka membutuhkan sandang untuk dikeringkan

Jika sudah jenuh dari minus derajat celcius

Jika ini

Jika itu

Semua bersyarat

Aku temukan aku salah; menyangka menyukai itu sederhana,

Semakin aku naiki anak tangga usia, ternyata definisi mengenai sederhanaku salah kaprah.

Kata mereka lagi dengan mantap bahwa menyukai itu sederhana

Nyatanya, sesak dengan jika dan prasyarat

Lalu, justifikasi mulai diajukan

Kata mereka lagi dengan penuh retorika, “Semua di dunia ini relatif.”


Yogyakarta, 4 Juli 2016

Asik sebentar lagi lebaran.


Senin, 20 Juni 2016

Kamu.

Kamu tidak perlu menjadi buruk untuk membuatku jatuh terjungkal.

Karena kamu baik.
Sebaik cuaca hari ini; biru tanpa semburat kuning tajam menyengat epidermisku.

Karena kamu baik.
Baikmu ku definisikan dengan prinsip sederhanamu mengenai Tuhan.
Sebaik hubunganmu dengan Tuhan ketika lelaki lain ria dalam masa mudanya.

Karena kamu baik.
Deretan harap yang ibumu aminkan dalam sujudnya, juga sepertiga malam yang menjadi saksi dalam heningmu; bekal yang menjagamu dari ketidak beruntungan.
Itu jawaban atas tanyamu ba'da isya di pinggir kota Jogja, tanyamu kepadaku.

Karena kamu baik.
Jelma tanganmu melalui doa yang membantu jalanku, yang kamu sembunyikan agar aku tak terbisik.

Karena kamu baik.

Tapi, kamu tidak perlu menjadi buruk untuk membuatku jatuh terjungkal.

Aku pamit mundur dan tetaplah menjadi baik, kamu.


Jumat, 06 Mei 2016

The New Sexy

Nyata dan maya seminggu awal Mei ini sedang sibuk sepertinya. Mulai dari kasus Yuyun, si malang yang makin malang karena banyak "hakim" tuding sana sini. Main silet sembarangan di Jogja yang katanya berhati nyaman jadi suka parno pulang malem sendirian. Mahasiwa bunuh dosennya karena skripsi. Belum lagi pembunuhan mahasiswi di kampus sebelah yang juga sedang ramai dengan hashtag #bUKTicinta.

Barbie cape.

Tenang, post ini tidak akan membicarakan hal-hal melelahkan di atas.

Pagi ini dengan sepeda, aku menuju apotek pinggir jalan magelang untuk beli obat segala obat; Viva la tolak angin cair!
Di apotek itu juga teman SD, Dedi kerja part time. It has been 8 years we've been friend.
And this morning, he inspired me. A lot.

Obrolan singkat sembari membayar lima buah tolak angin (hey sidomuncul, pay me for stating your brand.) membuka kelopak mata yang masih bersatu tak bisa dikalahkan hore.

"Tumben pagi jaga Ded, libur kuliah ya?", aku membuka obrolan.
"Iya yel, tapi aku sekarang tiap hari jaga kok."
"Loh jam berapa aja?"
"Jam 5 pagi ampe 9 pagi, terus malemnya jaga lagi dari jam 10 malem ampe pagi."

See?

Kerja keras, cerdas dan ikhlas itu seksi.

Jumat, 22 April 2016

But, being Alpha Woman is Not Enough

Saya sangat setuju dan bersyukur atas jasa Kartini yang sudah mengeluarkan kaum wanita dari gelap menuju terang.
Saya setuju dengan tokoh feminist, Alice Walker yang menyatakan bahwa purple is to lavender as woman is to feminist.
Tidak bisa saya bayangkan jika 70 tahun perjuangan feminist movement gagal, dan woman slavery, negative prejudice dan discrimination tetap ada sebagai hal lumrah sebagaimana wajarnya; wanita itu lebih rendah.

Muncul lah typical wanita mandiri, problem solver, visioner yang katanya disebut sebagai Alpha Woman.

Alpha Woman - bagaimana bisa saya untuk tidak setuju dengan diskripsi wanita seperti ini? Yes, I cannot disagree with this idea.

But girls, being an alpha woman is not enough.

Mandiri; kebutuhan diri yang memang sanggup dipenuhi ketika kita menapak sendiri.
But girls, tidak lah layak predikat Alpha Woman kita lencanakan bahkan menjadi jumawa di hadapan ayah atau suami di masa depan.
Ada hakikat yang harus dijalankan bahwa kita ada di belakang mereka, sebagai pengikut dan pendukung.
Equality tidak berlaku disini, berbeda dengan ketika feminist menyeruakan equality in political position or work field.

Problem solver; ada kecerdasan dan intelektual yang kita rintis sejak dini, membangun kapabilitas dan kredibilitas dalam menyelesaikan masalah.
But girls, tidak lah layak predikat Alpha Woman kita lencanakan bahkan menjadi jumawa di hadapan ayah atau suami di masa depan.
Ada hakikat yang tidak boleh diabaikan bahwa kecerdasan kita tidak melulu menjadikan kita pemenang. Ada tutur kata lembut dan rasa mengalah yang menjadi hak absolut mereka.

Visioner; memandang jelas ke depan. Ada rencana, tujuan yang terstruktur dan mimpi-mimpi yang diupayakan menjadi nyata.
But girls, tidak lah layak predikat Alpha Woman kita lencanakan bahkan menjadi jumawa di hadapan ayah atau suami di masa depan.
Ada hakikat yang tidak boleh kita lupa bahwa ada restu yang wajib ada di kotak bekal kita dalam menggapai segala visi.

For me and girls out there, be the typical of Alpha Woman with heart.

Diella, Yogyakarta 22 April 2016, tengah malam pingin makan mi jawa rebus panas.

Minggu, 10 April 2016

Maka, ijinkan aku

Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Tanpa harus tahu, kamu siapa dan dimana
Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Dengan memantaskan hati dan diri

Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Tak perlu aku tahu rupamu bahkan peringaimu
Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Berproses, aku naiki anak tangga demi anak tangga, jika kamu berpijak di panggung yang berbeda

Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Melalui rantaian doa dalam sujudku yang aku aminkan, selalu
Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Karena aku akan menjadi hak bagimu, seutuhnya

Ijinkan aku mengasihimu lebih dahulu
Dengan rewelku kepada Tuhan,
Kapan kamu datang?



Yogyakarta, 10 April 2016

Minggu, 14 Februari 2016

2016

"If you like any relationship (family, marriage, friendship, dating) because of physical attraction, that's kind of funny; because that's the only thing in life that changes." - Gardiner Sisters

Minggu, 24 Januari 2016

I call it a short trip

The perks of musim hujan adalah kenyamanan tingkat akhir untuk goler goler di kamar sembari membaca dan menonton drama korea, tapi musim hujan andil besar dalam merubah rencana jadi wacana. Contoh, kemarin wtwt rencana nonton sunset di Ratu Boko dan berakhir nonton sunset sambil makan shihlin di Amplaz. Tidak berbobot.

Sudah 2016, banyak perjalanan pendek yang muncul kemudian usai dan mulai lagi dengan cerita lain. Autoimun, salah satu perjalanan pendek sejauh 20 tahunnya diella island.

Tenang, ini bukan tulisan tentang surviving yang penuh emosional dan rekomendasi klinik mana yang jitu.

Autoimun (cari aja di google apa maksudnya, malaz jelazin) sudah ada dibadanku sejak SMA kelas 2-sekitar 4 tahun lalu. Baiknya adalah aku terkena di tulang, atau radang tulang. It used to hit me hard  for the last couple years, wqwq kek lirik lagu. Sakit bro. Kenapa baik? Karena ada pengidap autoimun yang terserang di darah dan itu ngeri abis karena ada kemungkinan untuk meninggal mendadak.

Thanks to Allah, its getting better now.

What I am going to say here; the perks of sakit dan harus ke rumah sakit dalam jangka panjang, rutin terapi dan segala tetek bengeknya adalah aku melihat dan bertemu banyak sekali orang yang kurang beruntung kondisi fisiknya. Ketika antre untuk kontrol rutin glaucoma di Yap yang rame nya kayak mau nonton konser, aku ngobrol dengan ibu paruh baya yang mata sebelah kirinya udah nggak bisa lihat. Belau datang jauh-jauh dari Kediri dan harus antre dari jam 9 sampai 4 sore.

She said to me berkali kali, "Mbak jangan lupa obatnya yang rutin supaya nggak kayak saya ya pas besok udah tua."
I was smiling and nodding.

Ada efek yang luar biasa ketika rumah sakit sudah seperti rumah kedua; belajar untuk bersyukur yang sangat amat efektif, ESQ-ESQ ama mario teguh kalah dah.

Dan semakin lebar mata terbuka bahwa setiap orang punya perjalanannya masing-masing; ampuh sebagai motivasi untuk tidak mengeluh. Kata Fergie, "Big girls dont cry."

So thats one of my short trip within 20 years of breathing and eating.

Semoga segala resolusi 2016 tercapai!
Sebul cinta!

Minggu, 10 Januari 2016

Satu Frekuensi dengan Kaca Kedaulatan Rakyat

Aku tahu ini adalah h+2 ulang tahun Rubrik Kaca Kedaulatan Rakyat ke 8,

Aku juga tahu kalau sibuk kuliah sedang ujian dan segala tetek bengeknya sebagai alasan keterlambatan post kali ini, Mas Agung sebagai redaktur yang merangkap sebagai guru dan abang akan berkata
"RA URUSAN" atau "KAREPMU"

Aku tahu ketika liputan team tak layak dan berbagai alasan muncul sebagai pembelaan; Mas Agung sebagai redaktur yang merangkap sebagai guru dan abang akan berkata
"RA URUSAN" atau "KAREPMU"

Dan aku ingat bagaimana tinta merah itu berbaur menjadi satu dengan pola abstrak diatas liputan kami; sedih.

Memang, kontribusiku di Kaca sangatlah terbatas dan tidak totalitas. Tapi satu hal; aku selalu ingin berproses dalam satu irama dengan Kaca, dengan frekuensi yang sama.


Atas segala "RA URUSAN" atau "KAREPMU";
aku belajar bahwa satu kata "sanggup" atau "ya" dapat dituntut pertanggung jawabannya, bahwa satu kata "sanggup" atau "ya" berarti lebih dari tanda tangan di atas materai 6000; dan inilah pelajaran mengenai komitmen yang paling efektif menurutku.

Atas segala kesederhanaan Kaca, aku belajar bahwa kenyamanan rangkulan teman dan juga Mas Agung lebih mujarab daripada kenyamanan tempat secara fisik. Buktinya, mesin AC di sekretariat Kaca yang sudah menghasilkan butiran es batu dan kesejukan yang jauh dari harapan tak menghalangi kami untuk berkumpul.

Atas segala tauladan dari Mas Agung dan teman-teman, aku percaya bahwa Kaca tak sekedar tempat aku belajar menulis; tempat aku bisa berkaca dan menyadari segala cacat yang ada. Kaca tak sekedar nama, Kaca berhasil menjadi kaca-menjadi wadah untuk refleksi diri.

Atas segala "RA URUSAN" atau "KAREPMU"; itu lah alasan aku untuk selalu ingin kembali ada di Kaca.

Dan aku tahu akan ada "RA URUSAN" atau "KAREPMU" yang lain karena aku menulis ini namun aku tak kunjung hadir di Kaca; aku terlalu takut untuk bilang bahwa aku terus mengusahakan kembali dan berkontribusi dengan baik.

Tapi satu hal; aku selalu ingin berproses dalam satu irama dengan Kaca, dengan frekuensi yang sama.

Semoga kejujuran dalam tulisan ini terasa.

Terimakasih Mas Agung dan teman-teman untuk 3 tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya.

Selamat ulang tahun untuk kita semua, kalau Kaca itu dedek emesh sekarang udah kelas 2 SD. iyo iki ra lucu.

Kamis, 23 Juli 2015

Tidak Diderai

Dengan khidmat Diella Alba, eh Diella Zuhdiyani mengucapkan selamat lebaran!

Perjalanan Jogja-Temanggung yang awalnya dikhawatirkan bakal macet karena kami berangkat siang ternyata ramai lancar. Obrolan aku dan Ayah dimulai dari temukan 5 perbedaan ol nyu nisan gren lifina dan nisan gren lifina lama. Dan pemenangnya adalah. Tidak ada.

Percakapan kami beralih ke nyinyiran pribadiku
D- "Ayah mana ada di teve seleb penyanyi dangdut mau bayar zakat aja pake disoteng."
D- "Itu si anaknya melinda yang cerai anggota DPR yang ganteng siapa namanya?"
A- "Farel."
D- "Nah iya Farel, masa kemarin dia nuker duit lebaran di pinggir jalan pake disoteng segala."

Yang paling baik tidak diderai

Almarhum Datuk (Ayahnya ayah) selalu bilang bahwa yang paling baik tidak pernah diderai. Yang baik tidak pernah dengan mudah dilihatkan, dipamerkan. Yang baik akan dijaga, dirawat tanpa khawatir dilupakan, karena kebaikan yang dia punya dia akan dicari, tanpa berusaha untuk diakui.

MANA ADA RAISA BIKIN NASTAR PAKE DISOTENG SEGALA

Itu diatas yang pake kapslok adalah contoh praktikal yang cukup konkret.

Well, langit tidak perlu menjelaskan kalau dirinya tinggi. People know you are good if you are good.

Samlekom.



Sabtu, 04 Juli 2015

Jangan Sembarang

Seperti biasa tiap bulan ramadhan dari tahun ke tahun aku buber (Buka Berdua) dong. Emang mereka doang yang bisa buka berdua. HAH HAH GUWE UGA BISA HAH

Iya.
Bedua.
Tapi sama nindi.
Sejak jaman jahiliyah enggak pernah ganti.

Agak memprihatinkan memang.

Percakapan kami dimulai dari eek goreng yang dijual di Bangkok hingga mencapai kesimpulan

Seorang maba dilarang sembarangan jatuh hati.

Bold italic underline.
Menurutku ada hal yang hingga sekarang masih menjadi misteri Illahi; Bagaimana seorang manusia terlahir dengan kharisma yang tak pernah padam? Apakah kharisma itu hal yang dapat diusahakan atau anugerah dari Tuhan.

Damn it! untuk kakak-kakak angkatan di kampus saya ataupun di kampus lain yang ketika mereka jalan menyusuri koridor kampus atau menapakkan kaki mereka di anak tangga kharisma mereka ngocor-ngocor berserakan di lantai. Bahkan di kelas terakhir pukul 18.00 kharisma mereka masih terpancar segar.

And Im here like, "sis beli kharisma dimana yha."

"Aku jatuh hati sama kakak angkatan.", aku menutup topik eek goreng yang hampir setengah jam kami bicarakan
"Tapi aku sudah siap untuk sekedar menjadi fans. Kalau perlu aku jadi ketua fans club dia." Lanjutku sebelum nindi berkomentar

Dari semua pengalaman diri sendiri maupun orang lain dan juga pengalaman nindi, aku menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa ketika seorang maba perempuan jatuh hati sama kakak angkatannya hanya ada dua kemungkinan
1. Berhasil menjadi pacarnya
2. Berakhir menjadi fans

Sudah kubilang, kalau perlu aku jadi ketua fans clubnya.

Karena ini tahun terakhirku menjadi seorang maba, untuk maba-maba dilarang sembarang jatuh hati. Itu pesan mama.

BYE

Jumat, 26 Juni 2015

Being Ready or Just in Need

Sampai detik ini misteri kenapa "hasrat ingin ngeblog selalu bergelora saat tugas-tugas menumpuk" masih belum terpecahkan. Paper finance yang kemarin direvisi berhenti di 70 kata pertama yang 40 katanya adalah cover paper. Entah beberapa minggu ini otak bekerja seperti laptop, it is not responding every 5 minutes.

Sebulan lalu aku ditemani Rizka ngerjain paper via tilpun gratisnya LINE, 3.5jam ngobrolin hal tak berbobot hingga percakapan kami sampai di "kayaknya emang aku udah terlampau nyaman sendiri deh yel" (apakah ini harus di cite ke Kunto Aji supaya tidak menjadi plagiarisme, Prof?)

Iya. Bener. Bener juga. BeJug. BenUga. NerUga.

Aku pun ngapa-ngapain sendiri. Sudah nyaman untuk tidak terikat dengan apapun, siapapun.
Kalaupun handphone lowbat gak pernah resah takut gak bisa komunikasi sama si pacar. Cukup minta pulsa sms teman "Ibu ayah hpku mati. Diel"

Aku nyaman untuk menghabiskan waktu dengan segala tugas, film, drama, buku. Sendirian. Di rumah.
Aku nyaman untuk berbagi dan menjadi tempat keluh kesah senang teman-teman dekat.
Tanpa harus bingung Minggu ini akan kemana.
First anniversary mau apa.
Intinya aku nyaman untuk tidak terikat dan mengikat.

TAPI
GHUE UGA MANUZIA

Obrolan 2 jam dengan Rizka disela-sela kesibukan hari ini sambil makan snowball yang aku bilang eneg tapi kuhabiskan hingga tetes terakhir, menyadarkan sesuatu.
Tidak selamanya aku akan ada di lingkup nyaman untuk melakukan semuanya sendirian.
Rizka yang sebulan lalu mematenkan lagu Kunto Aji sebagai jalan hidupnya, toh sekarang soundtrack of the day Rizka saat ini pasti lagu-lagu penuh bunga, cahaya bintang, kupu-kupu, ulat, kepompong, yak itulah fase metamorfosa. (iya mz kebalik)

"Surprise Murah", kata Rizka.
Adalah ketika hal-hal kecil yang berarti jauh lebih besar dan membekas.
Sapaan sederhana yang berujung duduk berhadapan di meja rumah makan.
Percakapan yang jauh dari gugup, kaku dan senggan seakan sudah saling mengenal sejak jaman Rabiul Awal.
Topik baru yang selalu muncul ketika "tutup halaman untuk hari ini" terpikir.

"Selera humor is crucial", kata Rizka lagi
Aku saut dengan lantang "SETUJU"
For me, a perfect relationship that I have been dreaming of is formed by love, tears and laugh
To love, to make failure then laugh at the foolery we have made before. Repeat.
Love and laugh is totally crucial.

I do envy you Rizka, and congratulation anyway.

Di sisi lain aku tau bahwa ketika aku hanya butuh disaat aku lagi edan tugas, saat itulah aku belum butuh. Jelasnya, aku belum siap. It is about being ready or just in need.

Toh juga aku cukup menganut kepercayaan "tulang rusuk tidak akan pernah tertukar." jadi dibawa ZANTAE ZAJHA

Whoever you are, I will give my finest love and laugh for you.


Jumat, 08 Mei 2015

long taim no si

Kata Aya di grup beberapa minggu lalu
"Kata dosenku coba deh kita lakuin hobi kita setiap hari."
Sempat terpikir, apa aku kudu nge post blog tiap hari. Kemudian dengan raut optimis "oke!" dalam hati.

Btw, pada tau kan ya artinya wacana?

Jangan lupa bold italic uderline.

Jujur semester 2 sudah terasa hecticnya sebagai mahasiswa. Welelele mahasiswa.
Matakuliah dengan segala tetek bengek riset yang sekarang aku paham sakitnya LDR (red: Lelah Disiksa Revisi). Ada yang tau rasanya proposal riset sudah selesai kemudian dosen minta ganti total? Aqu Quat Qoq

Dua bulan full berangkat subuh pulang tahajud kadang efeknya nggak baik, seperti kebalik pakai baju ketika ke kampus.
"Suk tau nggak kenapa aku dari tadi garuk garuk leher?"
"Kenapa?"
"TERNYATA BAJU AKU KEBALIK. HA HA HA. JADINYA KERAHNYA SEMPIT DI DEPAN."
Kemudian Sukma hening dan menatapku dengan keprihatinan.

Atau ketika di kamar mandi kosan Ayu celana basah kuyup kesiram air segayung padahal mau rapat evaluasi ketika itu jam 6sore rapat jam 6.30 mustahil untuk pulang ganti celana.
Akhirnya aku diantar Ayu ke parkiran dengan outfit yang sangat fasyenebel:
1. Jilbab warna coklat susu
2. Cardigan warna gading dengan daleman tutul-tutul abu abu
3. CELANA TRAINING WARNA MERAH JINGGRANG MENUSUK MATA
4. Tas plastik besar berisi celana yang basah kuyup
5. Payung
Kata Ayu aku harus foto #ootd

UTS mulai minggu lalu dan aku kena demam pas garap ujian finance Senin siang kemarin. Aku pikir itu hanya efek anak desa yang nggak mampu kalau dapet bagian duduk di bawah AC. Ternyata sampai 4 hari nggak turun panasnya. Semalam makin gila lagi dan terpaksa ujian Intro to Economics susulan, untung dosen matkul ini hatinya bak malaikat.

Yel, kamu kalau ngeblog kok isinya cuman sambatan sih!


Minggu, 22 Maret 2015

Baiklah

Berkiblat pada iklan ponds di youtube, posisi tidur meringkuk seperti fetus menandakan orang tersebut mudah gelisah.
Dari berbagai posisi tidur yang ada, aku secara tidak sadar selalu memulai tidur dengan posisi meringkuk. Dan bangun dengan posisi headstand.
Enggaklah, bangun juga masih meringkuk.

Kalau aku adalah penganut iklan ponds yang ekstrem kemudian hilang di perbatasan Turki dan Suriah (?), aku berarti manusia gelisah tak berarah.

Dimulai dari Bulan Juli 2014.
Aku jarang banget pakai make up, hanya di acara okasional seperti kondangan, prom nite, ke mall, beli bensin, ke kampus, ke lesan, dan beli siomay yang lewat depan rumah.
Enggaklah, emangnya yang sebelum ngampus berat badan 40kg abis dandan jadi 45kg.
Cuman di kondangan yang dalam setahun terhitung jari dan prom night perpisahan SMA kemarin.

Ternyata kulit wajah terlalu manja dan sok sporti untuk didandani. Pagi hari setelah prom mulai muncul bintik-bintik merah kecil. Ah mungkin jerawat biasa yang akan hilang keesokan harinya.
Ghue syalah bezar.

Bibit-bibit itu makin besar, subur dan membabi buta. Literally, membabi buta. Merata. Seluruh wajah.

Setelah beberapa bulan masa pengobatan yang penuh keputus asaan, hasilnya mulai terlihat. November lalu wajah udah cukup layak diajak selfie. Desember makin membaik.

Sampai kemudian mental dan hati mulai diuji lagi.

Awal Februari siang-siang panas terik, aku harus menyelesaikan on the Job Training di candi Prambanan. Itu panas teriknya udah tidak terdefinisi lagi. Muka memerah, literally memerah. Kemudian tragedi setelah prom seperti ter-rewind.

Bisa dibilang, saat-saat seperti ini self esteem benar-benar jatuh nol. Bahkan minus. Aku ngutang self-esteem, dan belum sanggup ngebayarnya.

Sampai sekarang, mukaku lebih kasar dari parutan kelapa ibu kamu. Serius.
Jerawat meradang. Inflamasi merata. Dan aku banyak melakukan hal bodoh karena ini.

Berikut list kebodohan diella;

1. Jadi lemah, cengeng sekaligus ngondek. Dimana-mana nangis tapi juga sambil ketaw-tawa. Di jalan pulang dari ngampus nangis. Dengerin lawakan penyiar radio ketawa lagi. Masuk rumah ketemu Ibu nangis lagi. Ini barusan tadi ngelipetin cucian sambil nangis dan kalau orang awam melihat, mereka pasti mengira keluarga kami mencuci pakaian pakai ekstrak bawang bombay.

2. Jalan di kampus kayak manusia terserang tengeng akut. Ketika aku jalan di koridor-koridor kampus, dengan sadar atau enggak aku pasti nunduk macam otot leher terlalu ngondek dan gemulai. Tak lupa nunduk dengan kecepatan berjalan full speed biar cepetan masuk kelas. Aku mirip orang tengeng akut yang keburu-buru mau melahirkan.

Karena nunduk dan tidak memerhatikan sekeliling, kemarin Senin di kelas Bridging aku jalan full speed ke kursi paling belakang sampai lupa menutup kembali pintu kelas, diketawain sekelas karena pak dosen berkali kali bilang "Diella close the door please." tapi ketakutan dan kekhawatiran aku terhadap wajah bisa-bisanya menulikan telinga.

3. Aku jadi malas bersosialisasi. Sejauh ini teman-teman yang aku tidak ragu untuk menatap mata mereka ketika ngobrol cuman Sukma, Fida, Ici, Rani dan Fara. Selain wtwt cuman mereka yang melihat aku tanpa ada ekspresi "Ini orang mampu beli PDAM buat cuci muka nggak sih." ketika kami ngobrol.
Alhasil, aku terlalu cemen untuk bergaul sama selain mereka di semester 2 ini. Cupu ya.

Liburan pun, selain main sama wtwt aku malas banget keluar rumah.

Di kampus ketika aku mulai resah sendiri, aku memutuskan buat pakai masker. Tapi kadang-kadang aku kasian sama Sukma yang notabene kami sering jalan berdua. Kan kasian kalau ada yang tanya
"Sukma yang mana sih?"
"Itu loh yang suka jalan sama cewek pakai masker kayak anggota ISIS wanna be."

4. Aku jadi tidak ekspresif dan tampak seperti manusia tidak bahagia. Nindi selalu bilang Jangan melihat dirimu ada di bottom just because of those pimples. Well, ketakutan dan kekhawatiranku udah ada di tingkat sampai aku melepas cermin di kamar karena aku nggak mau membunuh semangat pagiku karena bercermin.


Whats done is done.

Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa toh juga usahaku udah beyond the max.
Dokter? Udah. Lebih dari satu malah.
Aesthetic centre? Udah.
Herbs? Udah.
Detox program? Udah.

Selain menyakiti secara visual dan mental, jerawat ini juga menyakiti secara fisikal. Serius rasanya gatal panas tak terbendung.

Nah sekarang kamu ngapain Yel?

Aku lagi nabung buat beli buku Michael Walden Acne No more, Mike (biar sok akrab) adalah acne sufferer selama 19 tahun dan dia menemukan cara menyembuhkan acne severe tanpa bahan kimia apapun. Yaitu dari dalam, dari pola hidup. Nah berhubung aku belum beli bukunya aku belum bisa menjelaskan banyak.

Intinya, Mike kehilangan masa mudanya dan cuman punya 2 teman yang memahami kondisinya sebagai acne sufferer yang parah. Ribuan dollars udah habis untuk segala macam cara penyembuhan. Ratusan buku tentang metabolisme tubuh dan kulit wajah sudah ia baca dengan cermat. Pada akhirnya dia menemukan cara menyembuhan yang holistic dan efesien tanpa bahan kimia hanya dalam waktu 60 hari, he got a clear skin that he dreamed of for years.

Beberapa kebodohan diatas sepertinya masih akan aku lakukan sampai aku sembuh. Orang paling bodoh adalah orang yang tau dia melakukan hal bodoh tapi tetap dilakukan. I am dumb and ugly.

DOAKAN DIYEL CEPAT SEMBUH.

SMOOCHHH
Lebih parah dari gambar diatas. Udah gendut, jerawatan, ngantukan, malesan. Jangan mau temenan sama Diyel






Sabtu, 21 Maret 2015

SEMEA

YAK POST MAHA DAHSYAT SELEB TWITTER GANESYA DAN AYA MASUK DASHBOARD MERUBAH NIATAN BUAT SAMBAT JADI MAU NOSTALGIA AJA

Kenapa semea? Karena Mista Rifai dosen yang aksen britishnya lebih fasih dari pemain-pemain Harry Potter membaca SMA itu SEMEA.
"Which SEMEA we yu?" (read: which school were you?)

Aku masuk smada entah kenapa aku memilih SMA 2 Jogja......................................................
Kemudian aku dihujat semua orang................................
Karena nilai kelulusanku bisa buat masuk SMA mana aja di Jogja...............................
Dan aku milih smada karena cuman 5 langkah dari rumah..........................

Kalau menurut GANESYA ada 2 golongan nanggung (bego kaga pinter apalagi) yang masuk smada; 1. Yang ngarepnya masuk padmanaba ga kesampean, masuknya ke smada. 2. Yang udah pasrah mana aja boleh, eh ternyata bisa masuk smada. Yagitudeh, jadi kontras antara bangga banget sama kagol banget.

Tambah satu lagi deh; 3. Yang jiwa raganya sedang blank milih smada karena 5 langkah dari rumah dan ketika SNMPTN berlangsung dengan menggunakan nilai indeks sekolah (berdasar ranking sekolah) dirinya ingin loncat dari langit ke tujuh dan berenkarnasi kembali jadi anak SMP kemudian memilih sekolahan lagi kemudian keterima SNMPTN pilihan 1 dan bahagia dunia akhirat.

Okay, whats done is done.

Lagian kalau aku nggak masuk smada aku nggak akan bertemu wtwt. Kalau tidak masuk smada aku tidak akan merasakan banyak hikmah yang ternyata "Oh indeed this is the best way".
Dengan tidak bertemu wtwt sebenarnya aku bisa selamat dari sasaran empuk mereka, manusia-manusia dzalimi dan gemar menyiksa sampai aku nyaris sekarat di depan ipa 3 tapi Tuhan masih sayang aku. Aku pun tetap sayang mereka. Dan mereka juga sayang aku. I love you you love me we are happy family lalu Barnie muncul dan kami saling berpelukan.

Fokus.

Kelas 10 dimulai dengan aku duduk di sebelah Khairina yang jeniusnya sudah tidak terdefinisi lagi. Masuk di X.7 bertemu Nindi yang ketika itu masih kurus rambut indah muka berseri dan setelah 4 tahun berteman dia langsung naik 20kg.
Tak lupa, wali kelas kami adalah Maha Besar Bapak Sudono dengan segala rumus kimia dan kelihaiannya dalam mengendalikan waktu. 90menit pelajaran kimia bersama Pak Sudono aka pakdhenya Nesya (fun fact: Pak Sudono adalah Pakdhe dari Ganesya ya saudara saudara) adalah 90menit terlama bagi semua umat manusia.

XI.IPA.3 dari awal aku lebih berminat masuk IPS karena emang pingin kuliah di HI waktu itu. Tapi ayah ibu bilang siapa tau aku berpaling pingin berkecimpung di dunia saintek. Dan "siapa tau" itu tidak pernah terjadi dalam hidupku. Di kelas ini aku sekelas sama Nesya (fun fact: Nesya adalah ponakan dari Bapak Sudono ya saudara saudara), Aya dan Dian. Yang dengan mereka, masa kelas sebelasku makin jelas. Jelas ambyarnya.

Baru minggu keberapa masuk. Tas aya dan aku udah diambil wakasek karena bolos.
Dan Wali kelas kami Bapak Sudono lagi. Lagi. Lagi. (fun fact: Pak Sudono adalah Pakdhe dari Ganesya ya saudara saudara, jangan sampai lupa)
Tak lupa, kami adalah sasaran empuk Pak Sudono yang hobinya tunjuk-tunjuk berhadiah kalau di kelas.
"Yak mbak yang dari tadi tangannya di laci maianan HP kerjakan nomor 34"
"Yak mbak yang engga pakai jilbab kerjakan nomor 22" (Yaelah pak sama ponakan sendiri panggil namanya dong)
"Yak mbak yang ngantuk maju biar nggak ngantuk"

"Yaudah karena mbak tidak bisa mengerjakannya maka mbak bisa kembali ke bangku."- Said NO pak sudono ever.

You will be standing in front of the board until you do the right one. Walau sampai smada pindah ke tengah kota.

Udah ah nostalgianya lanjut kapan kapan kalau kangen SMA lagi

Smochhhh




Jumat, 27 Februari 2015

Tuan datang dan pergi

Tuan datang dan pergi

Tuan datang
Mengisi hati dan hari
Aku terhenti pada satu ruang yang tak ku lihat ada pintu keluar
Pada suatu ruang hangat penuh alunan syahdu
Pada suatu ruang penggerak kalbu untuk terus menari seakan tak ada mata menjadi saksi
Aku menari tak henti di bawah sinar mentari yang tak pernah pergi
Hangatnya abadi
Pada suatu ruang yang tersemat janji abadi untuk aku tak pernah pergi
Pada suatu ruang yang melarangku untuk bersendu
Riangnya tak henti datang tak pernah pamit pergi
Pada suatu ruang yang dibangun cacat
Namun mataku terlalu cacat untuk melihatnya cacat

Pada suatu ruang yang dengan khidmat aku bersumpah tak akan kutinggal, sedetik pun
Aku bersumpah

Aku terhenti memandang setiap sudutnya dalam
Terheran

Mencekam
Seketika ruangan hitam, kelam
Aku melangkah mundur mencari dimana bauran mentari yang selalu ada
Bingung
Demi Tuhan aku bingung
Aku merangkak tak berarah
Belum, aku belum berdarah
Namun aku sudah hilang arah
Dingin
Dinginnya menusuk setajam belati
Aku jatuh, terperosok dalam sekali
Terhentak tepat di belati yang sudah memelukku erat

Semakin dalam
Akhirnya aku berdarah, mengalir ke segala arah
Tersengat
Aku sesak
Pada suatu ruang yang menyempit tak bersisa udara untuk bernapas
Napasku terampas
Aku pikir aku akan singgah
Bukan berpindah

Ketika Tuan pergi